Kompas.Com hari ini menurunkan berita berjudul Koalisi Pendukung Prabowo-Hatta Diprediksi Bubar. Dalam tulisan itu dikutip pengamat politik dari CSIS, J Kristiadi, yang mengatakan bahwa partai-partai tersebut akan mempertimbangkan manfaat kekuasaan yang akan diperoleh dari pemerintahan selanjutnya. Masih menurut Kristiadi, mayoritas partai politik di Indonesia sangat memuja kekuasaan. Tujuan politiknya bukan untuk menyejahterakan rakyat, tetapi sebisa mungkin berinvestasi dalam pemerintahan yang berkuasa.
Saya setuju pendapat Kristiadi bahwa maypritas partai politik di Indonesia ini sangat menuja kekuasaan dan tujuan utamanya hanyalah sebisa mungkin ikut memerintah. Partai politik di Indonesia tidak memiliki etika dan harga diri politik. Hal itu dipertontonkan pada saat partai politik berpindah koalisi saat calon presiden yang diusungnya kalah dalam ajang pemilihan presiden. Tidak perlu disebutkan partai mana yang berperilaku seperti itu karena kita semua dapat melihatnya dengan terang benderang.
Akan tetapi, J Kristiadi semestinya juga menyoroti koalisi presiden terpilih yang mengajak partai politik anggota koalisi pesaing untuk bergabung. Dalam kasus pilpres 2014 ini, apabila ada partai politik koalisi pendukung Prabowo-Hatta yang menyeberang ke kubu koalisi pendukung Jokowi-JK, hal itu tidak semata-mata karena partai politik anggota koalisi pendukung Prabowo-Hatta yang haus kekuasaan tetapi juga ada andil dari koalisi pendukung Jokowi-JK yang mengajak mereka untuk bergabung.
Seharusnya, setiap partai politik yang bergabung dalam koalisi pendukung pasangan capres tidak berpindah kubu setelah pemilihan presiden selesai. Hal itu untuk menunjukkan bahwa setiap partai politik memiliki etika dan harga diri politik dan menunjukkan bahwa tujuan politik mereka bukan semata-mata untuk bisa bergabung dalam pemerintahan.
0 comments:
Post a Comment