Karena menemui petinggi PDIP, Abraham Samad dinilai melakukan korupsi terbesar.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI Benny K Harman menanggapi dengan menyayangkan manuver Abraham Samad yang melakukan lobi politik saat masih aktif sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), seperti diberitakan oleh Kompas.
Benny mengatakan bahwa kalau itu benar terjadi maka ini bukan pelanggaran etik, tapi pelanggaran korupsi terbesar, sama dengan memberikan janji untuk mendapatkan proyek.
Apa yang dikatakan Benny terkait dengan pernyataan pelaksana tugas Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bahwa Abraham pernah melakukan lobi politik untuk menjadi calon wakil presiden Joko Widodo. Hasto menegaskan, lobi politik Abraham dengan petinggi PDI-P termuat jelas dalam tulisan berjudul "Rumah Kaca Abraham Samad" yang beredar di situs citizen journalism Kompasiana.
Seperti ditulis di Kompasiana itu, pertemuan Samad dengan para petinggi PDIP terkait dengan pemilihan Presiden 2014 di mana disebutkan dalam tulisan itu bahwa Samad ingin menjadi Calon Wakil Presiden bagi Jokowi.
Samad membantah bahwa yang ditulis di "Rumah Kaca Abraham Samad" adalah fitnah belaka. Kini bola berada pada sisi para petinggi PDIP, apakah akan membenarkan isi tulisan itu atau seperti Samad, mengatakan hal itu hanyalah fitnah.
Penulis sendiri berpandangan bahwa Samad dan para petinggi PDIP harus jujur. Apabila pertemuan-pertemuan yang disebutkan itu memang ada, Samad dan petinggi PDIP harus mengungkapkan kepada publik. Kita tentu tidak ingin Ketua KPK bermain politik karena tugas pokok Ketua KPK adalah memimpin lembaga antirasuah itu. Apalagi kemudian pertemuan-pertemuan politik itu dipergunakan sebagai serangan kepada KPK dengan mengatakan pemberian status tersangka kepada seseorang adalah dendam pribadi Ketua KPK kepada orang itu. Mau jadi apa negara ini, karena Ketua KPK berpolitik, penegakan hukum bisa dianggap pembalasan dendam?
0 comments:
Post a Comment